#OneDayOnePost
----
REFLEKSI CINTA WANITA TUA ----
Oleh
: Rofikoh Yuliyanti
Masalah
adalah kata kunci setiap pendewasaan. Setiap jejak langkah kaki kita selalu
berjejal sejuta masalah. Tak jarang kita ingin meneriaki langkah lemah ini,
menghardik air mata yang menetes lewat celah hati yang mulai teriris, perih.
Tak
jarang duri pada telapak kaki kita sulit kita cabut, luka pada kulit susah kita
jahit. Engkau tahu kawan, kita harus merasakan sesak kala lapang menanti kita.
Orang bilang engkau takkan menjadi sukses sebelum sukses bersikap bijak menghadapi
masalah, kecil maupun besar.
Ada
juga pepatah jawa yang berkata”Kami wong tuo wes sering mangan garam” (terj :
Orang tua lebih dulu tertimpa masalah). Nah, jika kita berpikir lebih bijak,
setiap nyawa yang terlahir ke dunia akan diselipkan bumbu masalah yang tak
jarang menghabiskan separo kekuatan.
Menurut
penulis kalau kita mau melawan arus atau menyelesaikan masalah ya sederhana :
sederhana bersikap, bertindak, menulis dan berbicara.
Sederhana disini megenalisirkan masalah
besar dengan berpikir sederhana. Harus kita tanamkan dalam hati ‘Setiap sakit
ada obatnya’ tak jarang obat itu terletak di hati kita. Hati yang tidak angkuh,
dan mengembalikan semuanya kepada pencipta rasa itu yakni Allah Swt.
Ada
sebuah kisah nyata dari seorang wanita tua di ujung nagari Indonesia. Wanita yang
mampu menyelesaikan masalah besar dengan amat sederhana. Wanita itu ditinggal
suaminya, yang lebih parahnya dia harus menghidupi keempat anaknya yang masih
ingusan, bisa saja dia lari dari masalah, menyerahkan anak-anaknya ke nenek
mereka, mertua wanita malang itu. Atau dikasihkan ke panti asuhan. Tapi bukan
itu yang ia lakukan. Dia mengasuh keempat anaknya dengan segenap kasih, memberikan
cinta sebagai orang tua tunggal, dan dengan ridho mengais rezeky sebagai
penyadap pohon karet setiap paginya, dan ia dengan rela mendodos sawit yang
seharusnya menjadi pekerjaan seorang laki-laki, tapi dengan ketulusan dan sikap
sederhananya dia melakukan demi menghidupi keempat anaknya.
Dia
berpikir sederhana ”Dunia ini tidak abadi”. Hari ini keempat anaknya telah
menjadi sarjana hasil keringat ibunda mereka. Kini mereka merawat dan
membahagiakan wanita tua itu dengan segenap cinta refleksi cinta ibunda mereka.
So,
kita meski sederhana agar masalah sebesar apapun dapat kita hadapi.
Gambarnya kok tidak muncul ya, hehe?
BalasHapus